jump to navigation

Disayang Suami Sampai Mati, Menyesatkan tapi Membahagiakan Agustus 25, 2008

Posted by Irvan Syaiban in Around Me, Cinta, Keluarga.
trackback

Kadang, saya ditanya buku apa yang bagus buat dibaca untuk persiapan pernikahan. Biasanya saya menjawab dengan menyebutkan tiga buku karya Muhammad Fauzil Azhim (Kupinang Engkau dengan Hamdalah, Mencapai Pernikahan Barakah, Disebabkan oleh Cinta). Tapi, menurut saya, tiga buku itu belum cukup. Saya seringkali menambah menyebutkan buku keempat. Buku yang isinya tak hanya bagus dibaca buat persiapan pernikahan, tapi juga layak dijadikan rujukan selama kita menjalani hidup sebagai sepasang suami istri.
Sebelum menyebutkan buku apa itu, saya ceritakan dulu mengapa saya bisa menemukan buku itu.
Begini, sebelum saya menikah (tahun 2002), dua tahun sebelumnya (tahun 2000) saya sudah bikin resolusi harus menikah dalam dua tahun ke depan. Dus, untuk tujuan itu, saya intens survey ke orang-orang yang sudah menikah untuk menanyakan bagaimana menjalani pernikahan, manajemen konflik, persiapan punya anak, masalah financial, pendidikan anak, dan sebagainya.

Salah satu yang saya wawancarai (dengan wawancara terselubung) adalah seorang ustadz. Ia seorang ustadz yang dalam daftar saya termasuk orang-orang sukses. Secara agama, ia mumpuni, bisa berbahasa Arab, majelis yang ia tangani cukup banyak. Nafkahnya ia dapat dari bekerja sebagai seorang pengajar di sebuah lembaga edukasi yang mapan. Secara materi, ia punya rumah sendiri, mobil, dan beberapa sepeda motor. Kata mbak dan istri saya, istrinya pun cantik. Anak-anaknya juga terlihat sebagai anak-anak orang berkecukupan.

Tapi, satu jawaban dari wawancara terselubung itu bikin saya kaget setengah hidup. Ia sempat bilang, “Menikah itu rasanya indah di lima tahun pertama. Setelah itu biasa saja.” Dengan keadaan seperti yang saya ceritakan di atas, rasanya mustahil dia berkata seperti itu. Tapi, nyatanya ia berkata seperti itu juga.
Sontak saja saya mau menolak pernyataan beliau. Tapi, nyatanya saya belum menikah juga, jadi nggak punya alasan dan bukti yang kuat dong. Akhirnya, okelah, beliau begitu, tapi saya nggak mau begitu. Kepinginnya saya, menikah itu ya indah terus, bahagia terus. Nggak peduli sampai punya cicit, pokoknya harus diusahakan indah dan bahagia terus. Kalo pun ada berantem dan bertengkar, ya itulah bunga eh duri pernikahan, tapi penilaian keseluruhan haruslah indah serta membahagiakan.

Gara-gara kejadian itulah, saya lalu menyambangi toko buku, cari-cari buku tentang mengelola pernikahan.

Akhirnya saya temukan sebuah buku berjudul Disayang Suami Sampai Mati (selanjutnya saya sebut DSSM) karya John M. Gottman dan Nan Silver, terbitan Kaifa.

Waktu baca judul itu, rasanya aneh. Sepertinya, dengan judul kayak gitu, target market buku ini adalah para istri atau calon-calon istri. Dengan judul seperti itu, buku ini terasa seperti buku how to be a good wife, bagaimana menjadi istri yang baik. Dus, buku ini jadi terasa bukan merupakan buku yang tepat bagi para suami atau calon-calon suami.

Tapi, di kover buku ini tertera tertempel juga sebuah stiker bertuliskan Tujuh Prinsip Melanggengkan Pernikahan yang Dapat Dipelajari Suami dan Istri. Juga sebuah stiker lagi bertuliskan, Dilengkapi Kuis dan Latihan untuk Memperbaiki Komunikasi Suami-Istri. Apakah kedua stiker ini merupakan koreksi terselubung dari judul yang bias gender itu? Entahlah.

Membaca teks di kover belakang, saya jadi tertarik terhadap buku ini –terlepas dari judulnya yang aneh dan tempelan-tempelan stiker itu. Akhirnya, saya beli buku tersebut.
Setelah terbuka bungkus plastic ketatnya, buru-buru saya lihat informasi tentang judul asli buku ini. Ternyata, judul asli buku ini adalah The Seven Principles for Making Marriage Works. Menurut saya, judul terjemahannya terlalu berbeda. Entah apa yang membuat penerjemah judul buku ini memberi judul terjemahan seperti itu.

Jadilah buku ini menjadi teman setia saya dalam menunggu hari pernikahan. Buku ini menemani saya bolak-balik Jogja-Solo; baik ketika kerja maupun ketika PDKT ta’aruf sama (calon) istri saya.

Begitu membaca, saya langsung jatuh cinta pada beberapa halaman pertama. Pengantar yang ditulis oleh Leila Ch. Budiman berhasil membuat saya menetapkan buku ini sebagai buku yang harus dibaca segera.

Gottman dalam DSSM ini tidak mengemukakan teori di atas kertas tentang membahagiakan perkawinan. Pembahasannya jauh dari omong muluk-muluk, teoritis, normatif sampai berbusa-busa lisannya. Gottman menyadari terapi-terapi pernikahan yang lazim digunakan orang-orang saat itu sudah kurang efektif lagi. Gottman mengembangkan model yang lebih jitu.

Gottman adalah kombinasi psikolog dan ahli eksakta. Dia tak ingin data untuk konseling pernikahan hanya ia peroleh dari wawancara semata. Ia mendirikan Laboratorium Penelitian Keluarga di Seattle, yang ia juluki Laboratorium Cinta. Di lab itu, lima puluh pasutri, yang dipilih secara acak, dengan sukarela menjadi kelinci percobaan untuk penelitiannya. Gottman ingin tahu apa sebabnya pernikahan yang satu tetap senang dan bahagia, sedangkan pasangan lain saling menyakiti dan bercerai, atau pernikahannya dingin, mati bak kuburan.

Subjek dipelajari secara eksak, laboratoriumnya dilengkapi dengan peralatan canggih. Tiga video merekam tiap gerak dan raut muka para pasutri itu detik ke detik, dari pukul 9 sampai 21. Tubuh mereka dipasangi alat yang dapat mengukur tekanan darah, jumlah keringat, dan debar jantung mereka.

Di lab itu, para pasutri ini diminta bersikap wajar, sementara mereka membuka isi hati dan pikiran mereka sambil direkam “segalanya” –kecuali di kamar mandi. Data ini dilengkapi dengan sejarah hidup masing-masing. Video itu dapat diputar berulang kali buat dianalisis.

Inilah –menurut saya- kelebihan Gottman –dan buku ini. Gottman tak hanya studi literatur, wawancara responden, angket, self-report. Gottman bertanya resah, “Bagamaimana kita tahu bahwa seorang istri merasa bahagia, hanya karena dia menandai kotak “bahagia” pada suatu formulir?” Hasilnya adalah lab cinta-nya di Seattle itu. Ia melakukan penelitian fisiologis secara sungguh-sungguh tentang pasangan bahagia dan tidak.

Gottman telah memimpin lembaga yang mengatasi ratusan masalah pernikahan selama lebih dari 20 tahun. Laboratorium cintanya di Seattle telah mensupport hal itu selama 16 tahun!

Hasil penelitiannya itulah yang akhirnya ia tuangkan dalam buku DSSM ini. Kajian dan penelitian sungguh-sungguhnya menghasilkan tujuh prinsip melanggengkan pernikahan ini.

Jadi, bagi saya, Gottman tidak hanya omong doang. Bukunya tidak hanya teoritis. Bukunya lahir dari kajian empiris; terbukti dan teruji. Langsung saja, saya menetapkan buku ini sebagai buku ‘wajib’ bagi pasutri dan yang mau menikah. A must-read book!

Tentu saja, ada perbedaan sisi pandang Gottman dengan orang Indonesia –dan juga muslim- karena perbedaan budaya –dan agama. Misal, jika ada perselisihan antara istri dengan ibu suami (mertua istri), Gottman sangat-sangat menganjurkan para suami untuk berpihak kepada istri. Padahal, dalam Islam, belum tentu bisa demikian. Defaultnya, suami tetap harus memprioritaskan ibunya.

Gottman di DSSM juga tidak membahas tentang orang ketiga (PIL/WIL). Apakah ini bukan soal penting di Amerika? Wallahu a’lam. Ataukah pasutri di AS oke-oke saja tentang masalah ini. Gottman juga tidak begitu menyinggung masalah financial, sesuatu yang sangat potensial mengancam pernikahan orang Indonesia. Memang di AS, orang tidak bekerja ditanggung pemerintah lewat tunjangan. Yang jelas tidak ada di DSSM adalah tradisi-tradisi yang masih cukup mewarnai pernikahan di Indonesia, seperti hegemoni keluarga besar (baik dari pihak istri ataupun suami), kekuasaan ibu mertua daripada istri, dan semacamnya.

Buku ini masih menjadi handbook atau manual atau lebih tepatnya a moron’s guide bagi saya pribadi. Jadilah buku ini kumal, penuh dengan coretan-coretan saya, serta lipatan-lipatan halaman, dan tambahan lagi: jarang saya pinjamkan ke orang lain.

Beberapa kali saya ingin menghadiahkan buku ini bagi beberapa teman yang menikah. Sayang, buku ini sulit saya cari di toko-toko buku. Saya belum menanyakannya ke Kaifa. Apakah karena laris sehingga habis? Ataukah tidak diterbitkan lagi gara-gara jeblok di pasar lantaran “kesalahan” judul terjemahan?

Judul terjemahan itu memang kadang cukup menyesatkan, walaupun bagi sebagian orang malah menginspirasi. Waktu pertama kali istri saya baca judulnya, bahasa tubuhnya mengirimkan pesan: buku yang tidak memihak perempuan, bias gender. Bagi saya pribadi, istri saya sepertinya juga tidak begitu perlu membaca buku ini. Istri saya sudah punya bakat alami untuk membahagiakan pernikahan kami.

Toh, akhirnya istri saya –setelah tahu judul aslinya juga- membuka buku ini, walaupun belum selesai membacanya hingga sekarang. Tanggapannya juga positif. Maklum, sebagai sarjana psikologi yang pernah mengambil mata kuliah Konseling Keluarga dan Perkawinan, istri langsung bisa membandingkan hasil penelitian Gottman dengan teori-teori yang pernah ia pelajari. Dan memang Gottman lebih hebat daripada sekedar teori-teori tersebut.

Hari ini –hari saya posting ini di blog, enam tahun lalu, kami merayakan cinta kami. Alhamdulillah, kami telah melewati mitos lima tahun pernikahan itu. Enam tahun yang kami lalui seperti baru setahun-dua tahun saja. Seringkali kami merasa, baru tahun lalu kami menikah.

Secara keseluruhan, pernikahan ini kami rasakan sebagai pernikahan yang bahagia. Alhamdulillah. Jika bukan karena Allah, tentu kami tidak bisa merasakan seperti ini. Semoga Allah semakin membahagiakan kami! Sebagian ikhtiar yang kami usahakan adalah berdasar dari buku DSSM ini. Buku ini masih akan tetap saya baca. Thanks, Gottman!

Iklan

Komentar»

1. afraafifah - Agustus 26, 2008

wah..jd pengen beli bukunya…pdhl sbrnya saya dah males baca buku2 soal nikah..kyknya isinya “gitu2” aja.. : )

oia pak, skalian tanya…

“Kata mbak dan istri saya, istrinya pun cantik. ”

emgnya klo pny istri berparas cantik sbg ukuran org sukses kah..? atau “bonus” saja? mnurut pak irvan gmn?

Menurut saya (subyektif nih), istri cantik bukan ukuran orang sukses. Dalam masalah pasangan hidup, salah satu kesuksesan -lagi-lagi menurut saya- adalah menemukan pasangan hidup yang cocok, nyambung secara kepribadian. Tentu ini tidak menafikan adanya perbedaan. Mesti ada perbedaan lah, namanya saja manusia yang berbeda. Walaupun ada perbedaan, perbedaan itu nggak bikin masalah atau bisa ditangani berdua dengan baik. Sedangkan cantik menurut saya bonus saja. Cocok dan nyambung is okay, ditambah cantik siapa nolak? 🙂

2. Gugun - Agustus 26, 2008

Thanks, God!
(hehe…POWER booknya minta 2 yaa,…)

tambahan satu bukan kewenangan saya… yo nanti saya usulkan

3. Arif - Agustus 30, 2008

18+ yah? Hehe, blum nyampe. 😀

4. yaufani adam - September 26, 2008

bukunya ngawe-awe,
jadi pengen beli, 🙂

btw, penekanan penulis buku itu lebih ke komunikasinya ya pak?

mayoritas demikian, tapi juga tidak meninggalkan penekanan ke sikap dan perilaku terhadap pasangan

5. yaufani adam - September 26, 2008

pak kalau udah bahagia begitu, endak perlu lg yg namanya istri kedua kali ya?

mahap pertanyaannya lugu 😀

bagaimana jika motif pernikahan kedua adalah membahagiakan seorang wanita lagi? 🙂 (kok malah balik nanya)

6. yaufaniadam - Oktober 3, 2008

wah tambah seru nih…

saya balikt anya lg klo gt…

apa mungkin pakpernikahan kedua malah mendatangkan kebahagiaan bagi istri kedua.

biasanya yg dibahagia-bahagiakan kemudian malah istri kedua. Istri pertama kadang malah yg kena dampak nggak bahagia setelah poligami dilakukan; istri kedua lebih diperhatikan gitu

alih2 kebahagiaan, mimpi buruk kali pak 😀

tergantung niat, usaha, dan potensi, tentu juga rahmat dari Allah. syariat poligami dalam Islam memang ada. Tapi tidak semua laki-laki muslim terus wajib berpoligami (mode subjektif on). Ada penjelasan bagus ttg poligami dari ustadz abu umar basyir di nikah edisi september 2008 lalu di salah satu rubrik konsultasi. atau boleh juga baca bahagiakan dengan satu istri dari pak cahyadi takariawan.

7. yaufani adam - Oktober 5, 2008

iya pak, jawaban yg bagus, yg tidak subyektif insya Allah…

8. str8manhaj - Desember 4, 2008

mas..ngingetin aja koq…
itu lho koq belom dihapus…

9. str8manhaj - Desember 20, 2008

afwan,
setelah baca buku ‘bahagiakan diri dengan 1 istri’ terus lanjutkan baca buku (bantahannya) ‘menghapus catatan gelap poligami’…nanti akan kita temui kedustaan2 pak cah (dalam buku ‘bahagiakan diri…’ & bagaimana pak cah memelintir hadits2…

10. you know who - Januari 28, 2009

pak irvan
assalamu’alaikum
bisa dunk saya pinjam bukunya gottman itu,emang kliatannya susah cari bukunya.bolehkah?
oia terus katanya mo bagi2 buku…ditgg ga nongol juga ni?pripun?
salam buat istri, ukasyah dan adiknya ya…
wassalamu’alaikum

11. wulida rochman bin suyono bin mad sadali bin Nayalaksana - Februari 28, 2009

Assalaamu’alaykum.

@mas Irfan : Wah,udah 5 bulan tapi masih laris juga nih postingannya, hehe.
Btw, boleh juga tuh buat referensi 🙂

@Arif : Huss..huss…

@afraafifah : btw, jadi inget postingan teman saya mbak.,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: