jump to navigation

Menyalurkan Nafsu ‘Kuman di Seberang Lautan Tampak…’ Februari 27, 2008

Posted by Irvan Syaiban in Islam, Mengedit.
trackback

Selalu mudah untuk menemukan kesalahan orang lain. Kalaupun kelihatan sulit, ada beberapa orang yang mempunyai penyakit mencari-cari kesalahan orang lain. Di matanya, sesuatu yang kelihatan benar oleh kebanyakan orang pun ternyata ada salahnyaNafsu seperti ini memang sudah menjadi bawaan manusia. Sebab, memang manusia itu 1000 kali lebih menyukai dirinya sendiri daripada orang lain. Begitu kata Les Giblin dalam Skill with People. Nafsu seperti ini memang tidak selalu enak dirasakan, tapi juga bukan berarti selalu tak berguna. Suatu ketika, di tahun ketiga penerbitan kami, desainer kover majalah Elfata lembur habis-habisan menggarap kover salah satu edisi majalah ini. Setelah sekian jam melawan kantuk di depan monitor komputer, selesai sudah kovernya. Semua dirasa sudah perfect, minus kesalahan sama sekali. Naskah dan kover pun dipaket dalam CD ke percetakan. Majalah pun dicetak.
Setelah majalah turun cetak, pagi-pagi Bagian Pemasaran mengkontak desainer kover. Ia mengabarkan bahwa di kover terdapat kesalahan fatal. Ada gambar ayam siap dimasak di kover tersebut. Padahal, sesuai yang dituntunkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, gambar makhluk bernyawa adalah haram; dan itulah yang menjadi keyakinan kami dan kami usahakan pegang teguh di setiap edisi majalah kami. Apa mau dikata, majalah edisi itu pun harus menyertakan ‘bonus’ secarik kertas kecil berisi ralat bahwa gambar ayam itu terpampang tanpa sengaja.
Desainer kover yang bikin kesalahan benar-benar nggak memperhatikan ayam itu waktu merancang kover. Bagian Pemasaran-lah yang mengetahui pertama kali.
Sering memang kita sulit menemukan kesalahan kita sendiri. Orang lainlah yang kadang mampu melihat kesalahan kita. Dari sinilah timbul mekanisme sehat saling menasehati. Inilah salah satu bentuk penyaluran positif nafsu mudah menemukan kesalahan orang lain.
Ups, tapi ada syarat-syarat dalam mekanisme saling menasehati. Misalnya empat mata, menembak kegiatannya bukan pada pribadinya, de el el. Hm, sepertinya saya pernah menulis tentang syarat menasehati ini.
Inti dari penyaluran positif nafsu ini adalah pada tujuannya. Menasehati, mengkritik, mentahdzir haruslah bertujuan agar yang dinasehati, dikritik, ditahdzir menjadi lebih baik atau kembali kepada kebenaran. Jika aktivitas nggak mengenakkan pihak lain ini Cuma untuk mempermalukan, membunuh karakter, mentransfer pengikut/objek dakwah, maka itu bukan penyaluran positif. Itu sekedar menyalurkan saja, entah karena hasad, dendam, benci, sakit hati, atawa energi negatif lainnya.
Karena nafsu itu merupakan bawaan manusia toh Anda pasti juga mempunyainya. Agar tak menimbulkan efek negatif, salurkan nafsu itu kepada hal-hal yang positif dengan cara yang baik. Tak perlu jadi ustadz untuk menasehati orang lain. Tapi Anda perlu jadi ustadz kalo mau mentahdzir ustadz lain.
Ada profesi –selain ustadz- yang bisa kita gunakan untuk menyalurkan nafsu ini kepada kebaikan. Jadilah dosen atau guru. Lampiaskan nafsu Anda ketika mengkoreksi kerjaan anak didik Anda. Tapi tetap ingat rambu-rambunya lho. Waktu mengikuti kuliah kependidikan, saya menikmati banget mengkoreksi kerjaan siswa selama praktik lapangan. Kalo mentahdzir bisa menimbulkan konflik, mengkoreksi kerjaan siswa minim konflik. Kita sekadar menghadapi kertas kerja atau layar monitor dan membantai kerjaan mereka.
Selain dosen atau guru, penyaluran nafsu ini juga pas jika Anda bekerja sebagai editor. Tidak sekedar menemukan kesalahan, editor juga harus mencari-cari kesalahan. Saya menikmati bagian ini dalam kerja saya sebagai editor. Asyiknya lagi kalau yang diedit adalah tulisan ustadz. Ustadz yang bisa mentahdzir itu ternyata bisa dikoreksi pula oleh seorang editor.
Ada lagi profesi untuk menyalurkan nafsu ini, yaitu polisi. Siapa yang pernah kena tilang pasti paham banget dengan penyaluran nafsu ini dengan versi pak polisi. Ah, sudahlah, tampaknya yang satu ini tidak perlu dibahas.

Iklan

Komentar»

1. superkecil - Maret 26, 2008

pertamax ajah!!

apa iyah si?

2. hafidzi - April 18, 2008

koreksi diri kita sebelum mengoreksi orang lain, tul kan? klo ngga yaa akhirnya bakal kesandung kesalahan sendri

3. oRiDo - Mei 2, 2008

nafsu mengkritik nih yah….
hmmm…
jd blog walker juga bisa jd cara menyalurkan nafsu ini..
hehehe…

4. musa - Mei 21, 2008

“pandangan mata selalu menipu”
“pandangan akal selalu tesalah”
“PANDANGAN NAFSU SELALU MELULU”
“pandangan hati itu yang haqiqi”
-al hadists-

5. adiakhmadi - Juli 4, 2008

deep bgt
kena deh aku
hiks 3x
moga bisa tak perbaiki


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: