jump to navigation

Manhaj Menyunting Februari 27, 2008

Posted by Irvan Syaiban in Mengedit.
trackback

Apakah kerja seorang editor? Meruntutkan pola pikir sebuah buku, membatasi cakupan pembahasan suatu buku, membuat keterkaitan bab, sub bab, paragraf menjadi masuk di akal, mengerjakan kerjaan para korektor yang masih tersisa (hehe..), dan….
Bolehlah semua itu. Tapi ada satu hal yang penting dari kerja pengeditan atau penyuntingan.
Mochamad Fauzil Azhim pernah menulis bahwa buku yang bagus adalah yang menyederhanakan suatu persoalan yang rumit. Albert Einstein menjelaskan teori relativitasnya dengan cukup bagus. Relativitas waktu ia contohkan dengan waktu yang dirasakan oleh orang yang jatuh cinta dan orang yang jatuh sakit. Jadi, relatiflah si waktu tergantung perasaan orang yang sedang menjalaninya.
Kerja editor tak lepas dari yang dikatakan Fauzil Azhim tersebut. Satu hal yang penting untuk disadari para editor adalah bagaimana menyuguhkan menyunting bacaan yang enak dibaca walaupun masalah yang tersaji adalah rumit.
Seringkali buku ditulis dengan bahasa yang amboeradul abiss. Biasanya ini adalah buku terjemahan, entah dari bahasa Arab atau bahasa Inggris. Tugas editor yang penting adalah menyunting sedemikian rupa sehingga buku tersebut nyaman dibaca.
Saya sering menemukan buku terjemahan yang ternyata masih enggak nyaman buat pembaca Indonesia. Herannya, buku itu telah diedit. Mungkin paradigma penyuntingan editor tersebut berbeda dengan yang saya yakini. Misalnya, “Orang itu telah hilang kesabarannya”. Saya berprasangka ini berasal dari kalimat bahasa Arab. Yang paling parah adalah yang begitu saja menerjemahkan, “Telah hilang orang itu kesabarannya.” Walaupun kalimat pertama lebih enak daripada kalimat kedua, masih ada kalimat yang lebih enak lagi: “Kesabaran orang itu telah hilang.”
Sebenarnya, kalimat yang nyaman itu nggak rumit-rumit amat. Malah yang rumit itu yang nggak nyaman. Pelajaran pertama yang perlu diingat lagi saat Anda bekerja sebagai penyunting adalah tentang kalimat efektif. Tugas editor yang menyamankan buku agar enak dibaca itu sangat berpegang teguh dengan kaidah-kaidah dasar kalimat efektif.
Jadi, sebelum kita menulis sebuah buku untuk diterbitkan, akan lebih baik jika kita belajar lagi mengefektifkan kalimat. Dengan demikian, kerja saya pun enak, dan tetap menerima bayaran sebagai editor. 🙂

Iklan

Komentar»

1. dodimawardi - Maret 7, 2008

Salam,
Terima kasih sudah mengunjungi blog saya.
Sekaligus mau menjawab pertanyaan Anda, tentang hubungan antara Cool Edit Pro dengan menulis.
Jelas tidak ada hubungan langsung. Saya menyimbolkan cool edit sebagai dunia saya selama ini di bidang broadcasting radio. Sekarang, saya lebih banyak menulis, sehingga blog saya berisi melulu kebanyakan tentang menulis dan media khususnya radio.

Trims dan wasalam

Dodi

2. anas - Maret 16, 2008

Ouww.., Menjadi seorang editor itu juga musti pandai-pandai memilih dan merangkai kata ya mas *kelihatannya saya berbakat nih*

3. salafymuda - Mei 31, 2008

na’am akhie, ana luthfi. syukran!

4. Nugraha - Juni 16, 2008

Editor….wahhh susah banget buat saya pribadi…
Salam buat keluarga, akhie…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: