Singkirkan Hambatan Kreatifitas! Juni 19, 2008
Posted by Irvan Syaiban in Manajemen Diri.trackback
Siapa bilang kreativitas hanya milik para desainer grafis? Siapa bilang hanya orang sukses saja yang
kreatif? Tanyakan pada diri Anda sendiri, kreatifkah saya?
Setiap orang sebenarnya memiliki kreativitas. Pernyataan ini didukung oleh penelitian para ahli. Bahkan, mereka yang sudah di atas 45 tahun sekalipun masih dianugerahi kemampuan untuk menjadi kreatif. Pendeknya, selama otak masih berfungsi, kreativitas masih mengalir dalam diri seseorang. Lalu, jika demikian mengapa banyak orang belum mampu memanfaatkan kreativitas mereka secara optimal? Apakah karena kemampuan otak sudah menurun?
Ternyata, yang terjadi bukanlah kemampuan otak yang menurun. Kebanyakan orang tidak bisa memunculkan kreatifitasnya karena adanya hambatan-hambatan yang menghalangi dirinya untuk kreatif. Sebenarnya, cukup banyak hambatan yang mencegah seseorang untuk kreatif. Saat ini, Anda bisa mengetahui tujuh di antaranya. Walaupun Cuma tujuh, hambatan-hambatan di bawah ini sudah cukup terbukti keampuhannya untuk menghambat diri kita menjadi seorang yang kreatif.
Kenali hambatan-hambatan tersebut, siapa tahu beberapa diantaranya pernah menghambat diri Anda untuk menjadi kreatif? Lalu ambilah strategi dan tindakan untuk mengasah kembali daya kreativitas Anda.
Hambatan 1: Rasa Takut
“Mengapa Anda tidak mencoba cara baru saja untuk menyelesaikan pekerjaan ini dengan lebih cepat?”
“Ah, saya takut gagal. Kalau saya gagal atau salah, saya pasti dimarahi, bos! Jadi lebih baik saya kerjakan saja sesuai dengan yang diperintahkan.”
Yah, rasa takut gagal, takut salah, takut dimarahi, dan rasa takut lainnya sering menghambat seseorang untuk berpikir kreatif. Memang tidak enak merasakan kegagalan. Namun kegagalan termasuk pernak-pernik kehidupan. Tak selamanya orang akan sukses, suatu ketika dia pernah berhasil, suatu ketika dia juga pernah gagal. Ini dialami semua orang. Lalu mengapa tidak mencoba cara baru jika cara tersebut lebih bermanfaat? Kata orang, gagal hanyalah sebuah nama lain dari hasil akhir, di sisi lain, begitu pula berhasil.
Salah juga tidak enak dirasakan. Masalahnya, manusia sudah dinyatakan sebagai tempat salah dan lupa. Salah adalah perbuatan manusiawi. Setelah berlaku salah, hendaknya kesalahan tersebut diperbaiki.
Jika rasa takut sudah menghinggapi, orang tak akan maju. Kita semua dianugerahi ilmu setelah berusaha mengenyahkan rasa takut. Jika seorang anak memelihara rasa takutnya untuk mencoba sesuatu yang baru, tentu ia akan minta terus ditunggui orang tuanya saat masuk sekolah baru, dan tak akan mendapatkan hasil belajar di sekolah yang optimal.
Spence Silver adalah pemilik perusahaan stiker 3M. 3M berhasil dan sukses menjadi image sebagai produsen stiker catatan. Sebelum Spence Silver menemukan stiker yang disebut post-it note ini ia berusaha membuat lem yang kuat. Spence Silver gagal menemukan formula pas lem kuat itu.
Hambatan 2: Rasa Puas
“Mengapa saya harus coba sesuatu yang baru? Dengan begini saja saya sudah nyaman.”
“Saya sudah sukses. Apa lagi yang harus saya cemaskan?”
Ternyata bukan masalah saja yang bisa menjadi hambatan. Kesuksesan, kepandaian dan kenyamanan pun bisa jadi hambatan. Orang yang sudah puas akan prestasi yang diraihnya, serta telah merasa nyaman dengan kondisi yang dijalaninya seringkali terbutakan oleh rasa bangga dan rasa puas tersebut sehingga orang tersebut tidak terdorong untuk menjadi kreatif mencoba yang baru, belajar sesuatu yang baru, ataupun menciptakan sesuatu yang baru.
Apple Computer yang pernah menjadi nomor satu sebagai produsen komputer, pernah tergilas oleh para pemain baru di industri ini karena Apple telah terpaku pada keberhasilannya sebagai yang nomor satu,
sehingga menjadi lengah untuk menawarkan sesuatu yang baru pada target pasar sampai perusahaan ini terhenyak dengan munculnya pesaing yang berhasil menggeser kedudukan Apple. Namun, belajar dari kesalahan, Apple berusaha bangkit kembali dengan produk-produk baru andalan mereka.
Hambatan 3: Rutinitas Tinggi
“Coba-coba yang baru? Aduh mana sempat? Pekerjaan rutin saja tidak ada habis-habisnya.”
Apakah kalimat ini pernah Anda ucapkan? Jika ya, berarti rutinitas pernah menjadi hambatan bagi Anda untuk memanfaatkan kemampuan Anda untuk berpikir kreatif. Mungkin Anda perlu menyisihkan
waktu khusus untuk mengisi ‘kehausan’ Anda akan kreativitas, misalnya sepekan sekali belajar suatu keterampilan tertentu seperti elektronika, computer, atau apapun. Anda juga bisa membaca buku tertentu untuk menemukan ide-ide yang bisa Anda adaptasi. Mungkin Anda juga bisa sisihkan waktu untuk perluas lingkungan sosial dengan mengikuti perkumpulan-perkumpulan di luar rutinitas Anda. Tentu, Anda harus selektif juga untuk memilih perkumpulan yang bermanfaat bagi diri Anda.
Hambatan 4: Kemalasan Mental
“Untuk mencoba yang baru berarti saya harus belajar dulu. Aduh, susah. Terlalu banyak yang harus saya pelajari. Biar yang lain saja yang belajar.”
“Memikirkan cara lain? Wah, sekarang saja sudah banyak yang harus saya pikirkan. Lagipula memikirkan cara baru bukan tugas saya, biarlah atasan saya saja yang memikirkannya.”
Ini merupakan beberapa contoh kemalasan mental yang menjadi hambatan untuk berpikir kreatif.
Tidak heran jika orang yang malas menggunakan kemampuan otaknya untuk berpikir kreatif sering tertinggal dalam karir dan prestasi kerja oleh orang-orang yang tidak malas untuk mengasah otaknya guna memikirkan sesuatu yang baru, ataupun mencoba yang baru.
Thomas Alva Edison tidak berhenti berusaha untuk memikirkan cara yang lebih baik dari eksperimen sebelumnya sampai puluhan kali sebelum akhirnya ia menemukan lampu pijar? Bayangkan apa yang akan terjadi jika pada kegagalan pertama, Edison malas berpikir untuk mengasah kreativitasnya dan melanjutkan ke eksperimen-eksperimen berikutnya?
Hambatan 5: Birokrasi
“Saya bosan menyampaikan ide lagi. Ide saya yang enam bulan lalu saya sampaikan, belum ada kabarnya apakah diterima atau tidak?”
Seringkali karyawan, pelanggan, atau pelajar mengeluh karena ide atau usulan mereka tidak ditanggapi. Hal ini bisa saja terjadi karena proses pengambilan keputusan yang lama, atau karena proses birokrasi yang terlalu berliku-liku. Kondisi seperti ini sering mematahkan semangat orang untuk berkreasi ataupun menyampaikan ide dan usulan perbaikan.
Biasanya semakin besar organisasi, semakin panjang proses birokrasi, sehingga masalah yang terjadi di lapangan tidak bisa langsung terdeteksi oleh top management karena harus melewati rantai birokrasi yang panjang.
Belajar dari bidang manajemen, banyak organisasi dunia yang sekarang memecah diri menjadi unit-unit yang lebih kecil untuk memperpendek birokrasi agar bisa lebih gesit dalam berkreasi menampilkan ide-ide segar bagi para pelanggan ataupun dalam kecepatan mendapatkan solusi.
Hambatan 6: Terpaku pada masalah
Masalah seperti kegagalan, kesulitan, kekalahan, kerugian memang menyakitkan. Tetapi bukan berarti usaha kita untuk memperbaiki ataupun mengatasi masalah tersebut harus terhenti. Justru dengan adanya masalah, kita seharusnya merasa terdorong untuk memacu kreativitas agar dapat menemukan cara lain yang lebih baik, lebih cepat, lebih efektif.
Hambatan 7: “Stereotyping”
Lingkungan dan budaya sekitar kita yang membentuk opini atau pendapat umum terhadap sesuatu –atau lebih keren disebut stereotyping- bisa juga menjadi hambatan dalam berpikir kreatif.
Kebanyakan orang tua di negeri ini menginginkan anaknya jika sudah besar menjadi seorang pegawai, entah pegawai pemerintah alias pegawai negeri sipil atau pegawai swasta. Jika pandangan ini dipupuk terus, anak muda tidak akan kreatif untuk menciptakan lapangan kerja baru baik bagi dirinya sendiri ataupun orang lain.
Beberapa pengusaha sudah mendobrak hal ini. Sebut saja, pemilik Ayam Bakar Wong Solo, Pak Puspo. Sebelumnya, ia pun seorang pengajar pada sebuah sekolah. Stereotype ‘harus jadi pegawai’ ditepisnya dengan mencoba menjual ayam baker walau istri pertamanya dulu tak setuju. Kini, Ayam Bakar Wong Solo menjadi salah satu perusahaan waralaba di Indonesia yang sukses dan besar. Bahkan cabangnya pun sudah sampai ke luar negeri.
Kreativitas memang masih harus ditunjang dengan senjata sukses lainnya. Tetapi, orang yang memiliki dan bisa mengoptimalkan kreativitas mereka bisa menggeser mereka yang tidak memanfaatkan kreativitas mereka.
Lalu, bagaimana jika Anda mengalami hambatan untuk mengoptimalkan kreativitas Anda? Tidak perlu panik. Kenali hambatannya, atasi, dan ambil tindakan untuk mengasah kembali kreativitas Anda. Kreativitas itu ibarat sebuah intan, semakin diasah semakin berkilau. Jadi sudah siapkah
Anda untuk membuat kreativitas Anda agar semakin berkilau? Selamat mencoba! (*)
Bahkan, mereka yang sudah di atas 45 tahun sekalipun masih dianugerahi kemampuan untuk menjadi kreatif <<< Pablo Picasso masih melukis walau usianya 60 thn, begitu juga dengan Kolonel Sanders (Pendiri KFC).
Thomas Alva Edison tidak berhenti berusaha untuk memikirkan cara yang lebih baik dari eksperimen sebelumnya sampai puluhan kali sebelum akhirnya ia menemukan lampu pijar? Bayangkan apa yang akan terjadi jika pada kegagalan pertama, Edison malas berpikir untuk mengasah kreativitasnya dan melanjutkan ke eksperimen-eksperimen berikutnya? <<< GELAP gak bisa ngenet ha ha ha
wah, emang bener usia tdk memengaruhi seseorang utk hidup, lha wong namanya saja orang hidup, ya tho?
nah, kenal dg sahabat Rasulullah bernama Ammar bin Yasir, seorang komandan pasukan Khalifah Ali yang umurnya sudah sangat tua, 90 tahun??
di dalam hati yang beriman terdapat raga yang kuat…