Terdakwa Bernama Saddam Hussein November 28, 2006
Posted by Irvan Syaiban in What Really Happened?.trackback
Saddam Hussein kini duduk di kursi pesakitan. Tuduhan demi tuduhan diajukan kepadanya. Dari penyiksaan sampai pembunuhan massal. Saddam berkata bahwa ini adalah pengadilan rekayasa Amerika Serikat baginya.
Satu setengah dasawarsa lalu, Saddam Husein dengan pasukannya mencaplok Kuwait. Karena kekuatan pertahanan Kuwait yang tak seberapa, pasukan Barat pun dimintai bantuan. Kemudian datanglah pasukan AS ke tanah Arab. Sebagian mereka masuk ke Arab Saudi dan menempati pangkalan militer di sana.
Bola pun berbalik arah. Saddam yang mulanya menginvasi Kuwait menjadi icon perlawanan terhadap AS. Seakan-akan orang-orang melupakan penderitaan rakyat Kuwait yang didapat dari tentara Saddam. Yang mencuat kemudian adalah Saddam melawan AS.
Dukungan demi dukungan kemudian mengalir ke arah Saddam. Kaum pergerakan Islam mendukung angkat senjata Saddam melawan AS –walaupun dengan isu mengusir tentara AS dari tanah suci. Saddam pun muncul di televisi, shalat dua raka’at, dan berkata, “Saya mukmin.” Jadilah perang Saddam-AS menjadi perang Islam-Barat.
Saddam memang akhirnya keluar dari Kuwait. Irak pun terkena embargo sebagai ganjarannya. Beberapa tahun kemudian, dengan dugaan mempunyai instalasi senjata kimia dan biologi, pasukan sekutu kembali mengusik Irak. Baghdad pun jatuh. Akhirnya, Saddam ditangkap. Di bawah pasukan sekutu, rakyat Irak kembali menderita. Apalagi ternyata tak ada instalasi senjata kimia dan biologi.
AS memang teroris dunia. Bagaimana halnya dengan Saddam Husein? Termasuk jihadkah apa yang dulu dilakukan sebagian gerakan Islam dengan mendukung Saddam Husein? Mengingat pula selama ini Saddam berdiri di atas paham partai Ba’ts yang sosialis dan komunis?
Fatwa Syaikh Bin Baz
Syaikh Bin Baz pernah ditanya tentang Saddam Husein, “Apakah boleh mengutuk penguasa Irak, karena sebagian orang berkata bahwa selama ia telah mengucapkan dua kalimat syahadat kita menahan diri dari mengutuknya? Dan apakah telah tetap bahwa ia adalah seorang kafir?”
Syaikh Bin Baz menjawab, “Ia adalah kafir, bahkan walaupun ia mengatakan la ilaha illallah, berpuasa, dan shalat. Selama ia tidak melepaskan dirinya dari ideologi bid’ah Ba’tsiyah (sosialisme, komunisme) dan mengumumkan taubatnya kepada Allah secara terbuka dari hal itu dan dari apapun yang dulu ia menyeru manusia kepadanya. Ba’tsiyah adalah kufur dan sesat. Karena itu, selama ia tidak mengumumkan taubatnya secara terbuka, maka ia kafir. Seperti, Abdullah bin Ubay ia adalah kafir sedangkan ia dulu shalat bersama Nabi r. Dan ia dulu mengucapkan la ilaha illallah, dan ia juga bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, namun ia adalah orang yang paling kafir. Maka, seluruh yang ia kerjakan tidaklah mendatangkan manfaat baginya, karena kekufuran dan kemunafikannya. Maka, siapa saja yang mengucapkan la ilaha illallah di antara pemeluk keyakinan-keyakinan kafir ini, seperti Ba’tsiyin, komunis, dan selain mereka. Maka, mereka shalat untuk tujuan dunia, maka hal ini tidaklah membebaskan diri mereka dari kekufuran mereka.
Karena ini merupakan kemunafikan dari mereka. Dan, balasan pedih bagi orang munafik adalah diketahui, sebagaimana dalam kitab Allah,
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” (An-Nisa:145)
Maka, Saddam -dengan klaim keislamannya dan klaim jihadnya, atau pernyataannya, “Saya beriman,”- semua itu tidaklah mendatangkan manfaat apapun baginya, tidak pula melepaskan dia dari kemunafikannya. Agar seseorang yang mengklaim Islam menjadi mukmin sejati, tak dapat dielakkan, ia harus bertaubat dengan taubat yang bersih dari kepercayaannya sebelumnya. Lalu, ia harus menguatkannya dengan amalan, sebagaimana pernyataan Allah,
“Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), Maka terhadap mereka Itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah yang Maha menerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Baqarah:160)
Maka, taubat berhubungan dengan lisan, dan mengadakan perbaikan berhubungan dengan amal. Dan ini harus termasuk juga pengumuman terbuka. Dan jika dia tidak melakukan hal ini, maka ia tidak jujur. Maka, jika dia ternyata jujur sehubungan dengan taubatnya, maka hendaknya ia membebaskan dirinya dari Ba’ts dan hendaknya dia meninggalkan Kuwait dan berhenti menindas penduduknya. Dan hendaknya dia mengumumkan secara terbuka taubatnya dari Ba’tsiyah dan hendaknya dia mengumumkan bahwa Ba’ts adalah ideologi kufar dan sesat. Maka, wajib bagi orang-orang Ba’ts untuk kembali kepada Allah, taubat kepadaNya, memeluk Islam, dan memegangnya dengan teguh dengan akidahnya; lisan maupun amaliyah, terbuka maupun sembunyi-sembunyi. Mereka harus berpegang teguh dengan agama Allah, beriman kepada Allah dan Rasulnya n dan percaya kepada hari akhir jika mereka jujur…(Majmu’ al-Fatawa wa Maqalatul Mutanawwi’ah, VI/155-156)
Sepak Terjang Saddam
Umat Islam menangis ketika pasukan sekutu menyerbu Irak. Mereka menodai masjid-masjid dengan masuk ke dalamnya mencari gerilyawan Irak. Bahkan mereka membom masjid hanya untuk melumpuhkan gerilyawan Irak. Umat Islam mengalami penderitaan ketika pasukan sekutu masuk. Namun ternyata mereka juga pernah mengalami penderitaan yang berat sebelum itu. Pasukan kafir dalam negeri pimpinan Saddam Hussein ternyata juga tak kalah bengisnya dengan pasukan kafir luar negeri yang datang belakangan.
Di dalam buku Fatawa wa Ara-u Ulama Al-Alam Al-Islami fi Al-Ghazwil Iraq lil Kuwait wa Atsarihi Al-Mudammirah disebutkan kekejaman tentara Irak yang tak kalah kejam dari Nazi-nya Hitler.
Di daerah Kurdistan, di Provinsi Kirkuk, salah satu komandan Saddam yang bernama Ali Husain Majid memerintahkan seluruh penduduk daerah tersebut untuk keluar dari rumah mereka. Mereka menyuruh para wanita maju ke depan dengan menggendong bayi-bayi mereka. Kemudian, para tentara Irak memegang kaki bayi-bayi dan menariknya dengan paksa dari gendongan ibunya. Kemudian, mereka membenturkan kepala bayi-bayi tersebut ke tank dua sampai tiga kali hingga pecahlah kepala bayi-bayi itu dan berhamburan otaknya. Mereka lakukan hal yang sama pada bayi-bayi lainnya. Semua itu dilakukan di depan para orangtua bayi-bayi tersebut. Kemudian komandan bengis itu memerintahkan tank-tank untuk menghancurkan dan merobohkan rumah para penduduk. Setelah itu dikumpulkan kurang lebih 6000 anak-anak kecil berumur antara 2-5 tahun. Lalu mereka diberondong dengan senjata. Setelah itu, digiringlah para lelaki dan orang tua yang berjumlah 1500 orang ke Provinsi Tikrit. Di hadapan penduduk Tikrit, 1500 pria itu dibunuh untuk menanamkan rasa takut penduduk di sana.
Di salah satu perbatasan Kuwait, tentara Saddam Hussein membantai kaum muslimin yang sedang usai melakukan shalat Jum’at di salah satu masjid. Saat jama’ah sedang berzikir setelah shalat dan sebagiannya keluar masjid, tentara itu memberondongkan peluru ke arah mereka sehingga darah-darah membasahi rumah Allah yang suci.
Tentara Saddam pernah mengumpulkan orang tua, kakek-nenek, dan anak-anak kecil di markas mereka yang bernama Jaazinkan. Kemudian, tentara itu menyemprotkan virus-virus penyakit kepada orang tua dan anak-anak kecil tersebut hingga mereka tertimpa berbagai macam penyakit dan mati satu per satu. Di bagian depan area tersebut tertancap sekian papan yang bertulis, Areal Terlarang, Jangan Mendekat!
Begitulah sebenarnya keadaan Saddam Hussein dan para pengikutnya. Mereka bengis dan di atas paham partai Ba’ts yang sosialis komunis kafir. Bagaimana bisa seorang muslim berada di belakang Saddam yang sudah dihukumi kafir oleh ulama dan yang sedemikian bengisnya terhadap muslimin, kemudian ia menyerukan jihad terhadap AS? Sikap yang paling benar adalah dengan mengikuti bimbingan ulama. AS juga memang kejam dan penuh tipu daya. Tapi melawan AS –dan siapa pun- harus dengan ilmu dan bimbingan ulama, tak cukup hanya semangat semata.
Saddam kini duduk di kursi pesakitan. AS ternyata bohong dengan tuduhan instalasi senjata massal Irak. Semuanya mempunyai kesalahan. Yang penting, kita jangan ikut-ikutan salah. Suatu hari nanti jihad beneran melawan orang kafir akan terjadi. Saat ini, jihad kita adalah mencari ilmu syar’i yang benar agar pada jihad senjata nanti kita tidak terjerumus dalam kesalahan.(*)
Sumber: The Cataclysmic Tragedy of Saddaam Husayn, T.R.O.I.D. Publications
Mereka Adalah Teroris, Ustadz Luqman Baabduh, Pustaka Qaulan Sadida
Komentar»
No comments yet — be the first.